UIN Siber Cirebon – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, nyaman, dan inklusif. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual pada Mahasiswa dan Penyandang Disabilitas yang diselenggarakan pada Selasa, 12 Mei 2026 di Auditorium FEBI Lantai 4.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FEBI dalam memperkuat kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya pencegahan kekerasan seksual sekaligus membangun budaya kampus yang menghormati hak setiap individu tanpa diskriminasi. Workshop menghadirkan Elsa Lalasari, S.Sos., CHA, fasilitator pengembangan diri dan komunikasi, serta Royani Afriani, M.Pd, anggota Tim Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (LP2M) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Acara dipandu oleh Apt. Haqoiroh, S.Farm., M.Clin.Pharm. sebagai moderator dan diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika FEBI.
Tingkatkan Kesadaran Mahasiswa tentang Pencegahan Kekerasan Seksual
Dalam sesi pertama, Elsa Lalasari menekankan bahwa kekerasan seksual merupakan persoalan serius yang tidak hanya meninggalkan dampak fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis, sosial, hingga proses belajar korban. Oleh karena itu, menurutnya, seluruh warga kampus memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang aman, saling menghormati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
"Kampus harus menjadi ruang yang aman bagi semua, termasuk mahasiswa dan penyandang disabilitas. Pencegahan kekerasan seksual memerlukan kesadaran bersama, empati, dan keberanian untuk saling menjaga," ujarnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk membangun komunikasi yang sehat, menghargai batasan pribadi, serta tidak ragu melaporkan apabila mengetahui atau mengalami tindakan kekerasan seksual.
Dorong Sistem Perlindungan yang Inklusif
Sementara itu, Royani Afriani memaparkan pentingnya sistem penanganan kasus yang responsif dan berpihak kepada korban, khususnya bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas. Menurutnya, kampus perlu memastikan seluruh mekanisme pencegahan dan penanganan dapat diakses secara adil oleh semua pihak.
"Pencegahan dan penanganan kekerasan seksual harus dilakukan dengan pendekatan yang inklusif. Semua pihak perlu memahami mekanisme perlindungan agar korban memperoleh rasa aman dan pendampingan yang tepat," jelasnya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk menjadi agen perubahan yang mampu menumbuhkan budaya saling menghargai, menjunjung kesetaraan, dan menolak segala bentuk diskriminasi maupun kekerasan di lingkungan kampus.
Diskusi Interaktif Perkuat Pemahaman Peserta

Workshop berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait bentuk-bentuk kekerasan seksual, langkah pencegahan, prosedur pelaporan, hingga mekanisme pendampingan bagi korban.
Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya membangun lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berperspektif perlindungan hak asasi.
Wujudkan Kampus yang Aman dan Berkeadilan
Melalui kegiatan ini, FEBI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon berharap seluruh sivitas akademika semakin memahami pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari kekerasan seksual. Workshop ini juga menjadi bagian dari komitmen fakultas dalam memperkuat edukasi mengenai kesetaraan, penghormatan terhadap hak setiap individu, serta perlindungan bagi seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.
Dengan menghadirkan ruang diskusi yang edukatif dan kolaboratif, FEBI terus berupaya membangun budaya akademik yang aman, inklusif, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi terciptanya lingkungan belajar yang sehat dan bermartabat.