Oleh : Rijal Assidiq Mulyana
Pendahuluan
Gonjang ganjing ekonomi global, terutama karena perang Rusia-Ukraina yang belum berkesudahan
Penting dipahami bahwa keluarga merupakan unit ekonomi terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas kesejahteraan nasional, salah satu contoh kasus terbesar bagaimana unit unit ekonomi terkecil mampu mendorong kesejahteraan secara nasional terjadi di Cina
Salah satu strategi praktis yang banyak digunakan dalam perencanaan keuangan keluarga adalah model pengalokasian anggaran berdasarkan persentase tertentu. seperti model 50/30/20 (Purnami, 2025)
Literasi Keuangan sebagai Fondasi Kesejahteraan Keluarga
Literasi keuangan merupakan kemampuan individu maupun keluarga dalam memahami konsep-konsep dasar keuangan serta mengaplikasikannya dalam pengambilan keputusan ekonomi sehari-hari. Dalam konteks keluarga, literasi keuangan tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan (financial knowledge), tetapi juga pada pembentukan perilaku keuangan (financial behavior) yang bertanggung jawab. Perilaku tersebut tercermin dalam kemampuan menyusun anggaran rumah tangga, mengendalikan pengeluaran, menabung secara rutin, mengelola risiko, serta mempersiapkan kebutuhan masa depan. Keberhasilan perencanaan keuangan keluarga sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menerapkan prinsip-prinsip dasar pengelolaan keuangan. Setidaknya, terdapat tiga prinsip utama yang menjadi landasan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga, yaitu pencatatan anggaran, penentuan skala prioritas, serta pembentukan dana darurat dan tabungan.

Gambar 1 Literasi Keuangan Keluarga
1) Pencatatan anggaran. Berbagai pemasukan dan pengeluaran perlu dicatat secara sistematis sehingga keluarga dapat mengetahui kondisi arus kas setiap bulan. Pencatatan tersebut akan membantu keluarga dalam mengidentifikasi pengeluaran yang bersifat produktif maupun konsumtif, sekaligus menjadi dasar pertimbangan dalam melakukan evaluasi efektivitas penggunaan pendapatan.

Gambar 2 Pencatatan Keuangan.
2) Penetapan skala prioritas. Penetapan skala prioritas sangat penting dilakukan tidak hanya bagi keluarga yang memiliki pendapatan terbatas namun juga bagi keluarga yang memiliki pendapatan lebih. Bagi keluarga yang memiliki pendapatan, maka pengeluaran harus diarahkan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan primer seperti pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan tagihan rutin. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, sisa pendapatan dapat dialokasikan untuk kebutuhan sekunder maupun tersier. Pendekatan ini menjadi penting dalam mengurangi perilaku konsumtif yang sering dipicu oleh kemudahan transaksi digital dan promosi melalui media sosial.

Gambar 3 Penetapan Skala Prioritas
3) Penyediaan dana darurat dan tabungan. Dana darurat berfungsi sebagai mekanisme perlindungan terhadap risiko yang tidak dapat diprediksi, misalnya kehilangan pekerjaan, kecelakaan, maupun kebutuhan kesehatan mendadak. Sementara itu, tabungan merupakan instrumen untuk mencapai tujuan keuangan jangka menengah dan panjang, seperti biaya pendidikan anak, kepemilikan rumah, atau persiapan masa pensiun. Pembentukan dana darurat sejak dini memungkinkan keluarga mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman berbunga tinggi ketika menghadapi kondisi darurat.
Ketiga prinsip tersebut saling melengkapi dalam membangun sistem pengelolaan keuangan yang sehat. Pencatatan menghasilkan informasi, skala prioritas mengarahkan keputusan pengeluaran, sedangkan tabungan dan dana darurat memberikan perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi.
Model Perencanaan Keuangan Keluarga Sebagai Panduan Praktis
Model pertama adalah 50/30/20, yaitu mengalokasikan 50% pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan atau gaya hidup, dan 20% untuk tabungan serta investasi. Model ini sesuai diterapkan oleh keluarga dengan pendapatan relatif stabil karena memberikan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan saat ini dan persiapan masa depan.

Gambar 4 Model Perencanaan Keuangan 50/30/20
Model kedua adalah 40/30/20/10, yang membagi pendapatan menjadi 40% kebutuhan pokok, 30% cicilan atau utang produktif, 20% tabungan, asuransi, dan investasi, serta 10% untuk zakat, sedekah, atau kegiatan sosial. Model ini mencerminkan keseimbangan antara tanggung jawab ekonomi, perlindungan finansial, dan kepedulian sosial.

Gambar 5 Model Perencanaan Keuangan 40 30 20 10
Model 70/20/10 direkomendasikan bagi keluarga yang sedang melakukan penghematan ketat atau memiliki target keuangan tertentu. Sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan sisanya dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Pendekatan ini menekankan pentingnya konsistensi menabung meskipun kondisi ekonomi masih terbatas.

Gambar 6 Model Perencanaan 70 20 10
Kearifan Lokal Sunda Sebagai Pendekatan Penguatan Literasi Keuangan
Apakah nilai-nilai filosofi sunda bisa diintegrasikan dan dijadikan landasan etis dalam pengelolaan keuangan keluarga? Jawabannya bisa dan sudah dipraktekkan oleh orang tua kita zaman dahulu, Pendekatan ini menunjukkan bahwa perilaku finansial tidak hanya dibentuk oleh pengetahuan ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya dan nilai sosial yang berkembang dan diturunkan secara turun temurun dari masyarakat. Sebagai berikut:
1. Konsep Ekonomi Indung, menggambarkan pentingnya keseimbangan antara pengelolaan uang tunai dan ketahanan pangan rumah tangga. Dalam perspektif modern, konsep tersebut dapat dimaknai sebagai upaya melakukan diversifikasi aset keluarga sehingga tidak seluruh kekayaan bergantung pada uang tunai, melainkan juga pada sumber daya produktif yang dapat menopang kehidupan ketika terjadi krisis ekonomi.

Gambar 7 Konsep Ekonomi Indung
2. Tradisi Kanjut Kundang, yaitu menyimpan uang secara teratur dalam kantong kain, mengandung makna pentingnya disiplin dalam menyisihkan sebagian pendapatan. Walaupun bentuk penyimpanannya berbeda dengan sistem perbankan saat ini, nilai yang terkandung tetap relevan, yaitu membangun kebiasaan menabung dan menghindari pemborosan.

Gambar 8 Kanjut Kundang
3. Filosofi Buncir Leuit Loba Duit, menegaskan bahwa kesejahteraan sejati tidak semata-mata diukur dari banyaknya uang yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan keluarga menjaga ketersediaan sumber daya yang menjamin keberlangsungan hidup. Pandangan ini selaras dengan konsep ketahanan ekonomi keluarga yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko.

Gambar 9 Leuit (tempat penyimpanan padi)
4. Nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh memperkuat dimensi sosial dalam literasi keuangan. Pengelolaan keuangan keluarga tidak hanya berorientasi pada kepentingan individu, tetapi juga mengedepankan kejujuran, saling membantu, dan tanggung jawab bersama. Dengan demikian, integrasi kearifan lokal dapat menjadi pendekatan kontekstual dalam meningkatkan efektivitas pendidikan literasi keuangan di masyarakat Indonesia.

Gambar 10 Silih Asah Silih Asuh Silih Asih sebagai filosofi masyarakat sunda
Kesimpulan
Perencanaan keuangan keluarga merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan dan ketahanan ekonomi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan keuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan yang diterima, tetapi juga oleh kemampuan keluarga dalam mengelola sumber daya keuangan secara terencana, disiplin, dan berorientasi pada tujuan jangka panjang. Oleh karena itu tulisan ini menekankan cakupan literasi keuangan keluarga pada indikator indikator berikut: kemampuan memahami, merencanakan, dan mengelola uang secara bijaksana melalui penyusunan anggaran, penentuan skala prioritas, pengelolaan tabungan, serta mitigasi risiko keuangan. Penerapan prinsip-prinsip dasar pengelolaan keuangan, seperti pencatatan arus kas, pemisahan antara kebutuhan dan keinginan, pembentukan dana darurat, serta pengembangan kebiasaan menabung, menjadi fondasi dalam membangun perilaku keuangan yang sehat. Bagi keluarga dengan keterbatasan pendapatan, strategi pengelolaan dana terbatas melalui pengendalian pengeluaran konsumtif, pencatatan transaksi secara konsisten, dan penghindaran utang konsumtif menjadi langkah yang efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Selain itu, model pengalokasian anggaran, seperti pola 50/30/20, 40/30/20/10, dan 70/20/10, dapat menjadi panduan praktis bagi keluarga dalam mendistribusikan pendapatan secara proporsional sesuai kondisi ekonomi masing-masing. Fleksibilitas model tersebut memungkinkan keluarga menyusun prioritas keuangan yang lebih terarah sekaligus meningkatkan disiplin dalam mencapai tujuan finansial jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satu kontribusi penting dari tulisan ini adalah integrasi nilai-nilai budaya Sunda ke dalam praktik literasi keuangan keluarga. Filosofi Ekonomi Indung, Kanjut Kundang, Buncir Leuit, Loba Duit, serta nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh memperlihatkan bahwa pengelolaan keuangan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai etika, gotong royong, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini memiliki potensi besar untuk memperkuat efektivitas program edukasi literasi keuangan karena lebih dekat dengan konteks sosial dan budaya masyarakat.