Oleh: Dr. H. Didi Sukardi, M.H.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
|
Ekonomi digital bukan lagi pelengkap kehidupan kampus; ia telah menjadi ruang utama generasi muda belajar, bekerja, bertransaksi, membangun usaha, dan berjejaring global. Perubahan ini membuka peluang strategis bagi ekonomi syariah. Pasar halal, layanan keuangan digital, perdagangan elektronik, teknologi pembayaran, wisata ramah muslim, serta industri pangan dan kosmetika halal membutuhkan talenta yang mampu memadukan literasi syariah, penguasaan data dan teknologi, komunikasi global, serta keberanian berinovasi. Tanpa perpaduan itu, ekonomi syariah akan menjadi penonton dalam transformasi digital; dengan perpaduan itu, ia dapat menjadi pengarah inovasi yang adil dan bertanggung jawab. |
Kampus Siber sebagai Ekosistem Pembelajaran Masa Depan
Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon berada pada posisi strategis untuk menjawab perubahan tersebut. Transformasi kelembagaan melalui Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2024 menegaskan identitas UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sebagai Cyber Islamic University pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Mandat ini tidak boleh berhenti pada perubahan nama atau pemindahan kuliah ke ruang virtual. Kampus siber harus memperluas akses pendidikan, memperbarui pedagogi, menghasilkan konten digital bermutu, dan membangun budaya akademik yang mampu menjangkau masyarakat lintas wilayah.
Ekosistem digital universitas telah ditopang oleh pembelajaran daring, Learning Management System, aplikasi pendukung pembelajaran, studio produksi multimedia, serta penguatan kompetensi dosen sebagai pengembang materi digital. Pendidikan Islam digital, multimedia pendidikan, dan Pendidikan Jarak Jauh menjadi pilar pengembangan institusi. Bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, seluruh infrastruktur tersebut bukan sekadar perangkat teknis, melainkan modal untuk mempertemukan kekuatan ilmu ekonomi syariah dengan kebutuhan industri yang berubah cepat.

Gedung Siber UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, bagian dari ekosistem pembelajaran digital. Sumber: Humas UINSSC.
FEBI: Titik Temu Syariah, Teknologi, dan Industri Halal
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mengembangkan pendidikan melalui lima program studi: Perbankan Syariah, Ekonomi Syariah, Akuntansi Syariah, Pariwisata Syariah, dan Bioteknologi. Komposisi ini menegaskan bahwa ekonomi syariah berkelindan dengan sistem keuangan, tata kelola bisnis, pariwisata halal, teknologi pangan, farmasi, kosmetika, dan bioinformatika. Pertemuan antardisiplin tersebut penting karena industri halal global bekerja sebagai rantai nilai yang saling terhubung, bukan sebagai sektor yang berjalan sendiri.
Setiap program studi perlu menerjemahkan transformasi digital ke dalam kompetensi terukur. Perbankan Syariah harus memahami perbankan digital, teknologi finansial, keamanan transaksi, dan perlindungan konsumen. Ekonomi Syariah perlu cakap membaca data, memetakan perilaku pasar, dan merancang kebijakan inklusif. Akuntansi Syariah harus siap menghadapi audit berbasis teknologi, pelaporan digital, dan tata kelola data. Pariwisata Syariah perlu menguasai promosi destinasi dan layanan berbasis platform. Bioteknologi mempunyai ruang strategis untuk memperkuat inovasi produk halal pada bidang pangan, farmasi, kosmetika, dan bioinformatika.
Mencetak Talenta Digital yang Berkarakter Syariah
Talenta industri digital tidak cukup dibentuk melalui kemampuan mengoperasikan perangkat lunak. Kompetensinya harus utuh. Pertama, literasi syariah agar inovasi berpijak pada keadilan, transparansi, kemaslahatan, dan larangan merugikan pihak lain. Kedua, literasi digital dan data agar lulusan mampu menilai informasi secara kritis serta mengambil keputusan berbasis bukti. Ketiga, kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan bahasa asing untuk bekerja lintas budaya. Keempat, kreativitas dan kewirausahaan agar pengetahuan diubah menjadi produk, layanan, dan solusi bagi kebutuhan nyata.
|
“Teknologi harus memperluas kemanfaatan, memperkuat keadilan, dan menjaga kepercayaan.” |
Karakter menjadi pembeda utama. Dunia digital menawarkan kecepatan, tetapi kecepatan tanpa etika dapat melahirkan manipulasi informasi, penyalahgunaan data, transaksi tidak transparan, dan eksploitasi konsumen. Karena itu, lulusan FEBI harus tampil sebagai profesional yang amanah, adaptif, kritis, dan bertanggung jawab. Teknologi harus menjadi instrumen untuk memperluas manfaat, memperkuat keadilan, dan menjaga kepercayaan, bukan sekadar alat mengejar efisiensi atau keuntungan.
Riset sebagai Kompas Inovasi
Pengalaman akademik saya dalam mengkaji sistem hukum perbankan syariah, koperasi syariah, ekonomi kerakyatan, perlindungan konsumen, kebebasan berkontrak, serta transaksi non-tunai melalui layanan syariah menunjukkan satu benang merah: inovasi ekonomi harus tumbuh bersama kepastian hukum dan keadilan. Teknologi keuangan tidak akan berkelanjutan apabila mengabaikan keamanan, hak konsumen, keterbukaan akad, dan distribusi manfaat. Demikian pula, digitalisasi usaha masyarakat harus memperkuat kemandirian dan kesejahteraan, bukan memperlebar kesenjangan.
Karena itu, riset di lingkungan FEBI perlu diarahkan pada persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat dan industri: tata kelola kecerdasan artifisial dalam layanan keuangan, perlindungan data nasabah, kepatuhan syariah pada platform digital, penguatan UMKM halal, digitalisasi zakat dan wakaf, pengembangan wisata halal berbasis data, serta inovasi bioteknologi untuk industri halal. Mahasiswa perlu dilibatkan melalui proyek riset, studi kasus, magang, kompetisi, dan kolaborasi industri. Riset tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi harus menghasilkan rekomendasi, prototipe, model bisnis, atau solusi kebijakan yang dapat diterapkan.
Dari Cirebon untuk Dunia
Menduniakan ekonomi syariah berarti menyiapkan lulusan yang mampu membawa nilai Islam ke dalam percakapan dan praktik global. Langkahnya harus konkret: memperbanyak materi pembelajaran digital yang berkualitas, mendorong publikasi dan presentasi berbahasa asing, membangun portofolio digital mahasiswa, memperluas sertifikasi kompetensi, serta mengembangkan kerja sama dengan lembaga keuangan, perusahaan teknologi, industri halal, pemerintah, dan perguruan tinggi luar negeri. Ukuran keberhasilannya bukan hanya jumlah kegiatan, melainkan kualitas karya, jejaring, dan dampak yang dihasilkan.
Kampus siber memberi kesempatan kepada FEBI untuk melampaui batas geografis. Pengetahuan yang lahir di Cirebon dapat dipelajari oleh masyarakat di berbagai daerah, bahkan di negara lain. Pada saat yang sama, mahasiswa dapat mengakses sumber belajar, praktik terbaik, dan jejaring profesional dari berbagai belahan dunia. Inilah makna penting kampus siber: bukan menjauhkan manusia melalui layar, melainkan mendekatkan ilmu, kesempatan, dan kolaborasi.
FEBI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon memiliki modal kelembagaan, keberagaman program studi, ekosistem digital universitas, serta tradisi keilmuan ekonomi syariah. Modal tersebut harus diarahkan untuk melahirkan talenta yang unggul secara akademik, terampil secara digital, kokoh secara etis, dan percaya diri di tingkat global. Ketika teknologi dipadukan dengan nilai syariah, kampus tidak hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga inovator, wirausahawan, peneliti, dan pemimpin industri yang menghadirkan kemajuan sekaligus kemaslahatan. Dari kampus siber di Cirebon, ekonomi syariah dapat tumbuh semakin inklusif, relevan, dan mendunia.
Sekilas FEBI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
|
2.368 |
5 |
70 |
2.993 |
|
Mahasiswa |
Program Studi |
Tenaga Pendidik |
Alumni |
Data ringkas berdasarkan laman resmi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSSC
(diakses 1 Agustus 2026).